Articles by "Ramadhan"
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Apa Itu Malam Qadar?

Malam Qadar (Lailatul Qadar) adalah malam yang sangat istimewa dalam Islam, yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini terjadi pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan). Pada malam ini, Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam qadar itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 1-5)

Malam Qadar adalah waktu yang penuh berkah, di mana doa-doa dikabulkan, dosa-dosa diampuni, dan amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa pada malam ini.

Doa yang Dibaca pada Malam Qadar

Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca pada Malam Qadar adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada Sayyidah Aisyah RA. Doa ini singkat namun penuh makna, memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Doa Malam Qadar

"اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي"
Latin: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni."
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai sifat pemaaf, maka maafkanlah aku." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Doa ini sangat dianjurkan karena mengandung permohonan ampunan, yang merupakan salah satu tujuan utama ibadah di bulan Ramadan. Selain itu, doa ini juga mencerminkan kerendahan hati dan pengakuan akan kesalahan serta kebutuhan akan rahmat Allah SWT.

Keutamaan Malam Qadar

  1. Lebih Baik dari Seribu Bulan
    Ibadah pada Malam Qadar lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun).

  2. Pengampunan Dosa
    Barangsiapa menghidupkan Malam Qadar dengan iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.

  3. Turunnya Malaikat dan Rahmat
    Malam ini dipenuhi dengan turunnya malaikat dan rahmat Allah SWT hingga terbit fajar.

  4. Waktu Mustajab untuk Berdoa
    Doa-doa yang dipanjatkan pada Malam Qadar memiliki peluang besar untuk dikabulkan.

Tips Menghidupkan Malam Qadar

  1. I'tikaf di Masjid
    Menghabiskan waktu di masjid untuk beribadah, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

  2. Memperbanyak Doa
    Selain doa khusus Malam Qadar, perbanyaklah doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

  3. Membaca Al-Qur'an
    Tadarus Al-Qur'an atau membaca Surah-surah pilihan seperti Surah Al-Qadr.

  4. Shalat Malam
    Lakukan shalat sunnah seperti Tahajud atau Tarawih dengan khusyuk.

  5. Berbuat Kebaikan
    Sedekah, membantu orang lain, dan memperbanyak dzikir.

Penutup

Malam Qadar adalah malam yang penuh berkah dan kesempatan emas untuk meraih pahala besar serta pengampunan dosa. Dengan memperbanyak ibadah dan doa, kita bisa meraih keutamaan malam ini. Mari manfaatkan momen istimewa ini dengan sebaik-baiknya!

"Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk meraih keberkahan Malam Qadar dan menjadi hamba yang lebih baik setelah Ramadan. Aamiin."


Referensi:

  • Al-Qur'an Surah Al-Qadr

  • Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah

  • Kitab-kitab tafsir dan hadits terkait Lailatul Qadar


6 Amalan yang bisa dilakukan wanita haid di Malam Lailatul Qadar (10 Hari Terakhir Ramadhan).

Menurut Jumhur Ulama Malam Lailatul Qadar jatuh di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, yaitunya di malam-malam ganjil. 

Malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan ini hendaknya kita isi dengan amalan-amalan ketaatan, sehingga pahala yang diperoleh dilipat gandakan oleh Allah ta'alaa, ditambah dengan jaminan yang di berikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallah 'anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري: 1901، ومسلم: 759)
Artinya:
"Siapa yang qiyamullail di malam qadar dengan penuh keimanan dan perhitungan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhori dan Muslim)

Setiap muslim dan muslimah pasti menginginkan untuk mendapat malam lailatul qadar ini dan mengisinya dengan ibadah-ibadah kepada Allah ta'alaa. Namun bagaimana jika seorang muslimah sedang dalam keadaan haid? masih bisakah meraih keistimewahan pada malam qadar ini? 

Saat sedang haid, seorang muslimah memang tidak boleh puasa dan shalat dan beberapa ibadah lain. Meski begitu, ada banyak amalan dan ibadah yang tetap bisa dilakukan. Bahkan seorang yang sedang haid masih punya kesempatan untuk mendapat kemuliaan lailatul qadar.


Wanita haid tetap bisa mendapat kemulian malam Lailatul Qadar dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dengan melakukan amalan-amalan berikut:

1. Memperbanyak Istighfar dengan membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

“Astaghfirullah Al Adzim.”
“Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung.”

2. Memperbanyak Membaca Doa Sayyidul Istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Allahumma Anta Rabbii Laa Ilaaha Illaa Anta Khalaqtnii Wa Anna ‘Abduka Wa Anaa ‘Alaa ‘Ahdika Wa Wa’dika. Mastatha’tu a’uudzu Bika Min Syarri Maa Shana’tu Abuu u Laka Bini’ Matika ‘Alayya Wa Abuu-uBidzanbii Faghfir Lii Fa Innahu Laa Yagfirudz Dzunuuba Illa Anta.”

"Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan perintah-Mu dan janji-Mu dengan semampuku,  Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, Aku  mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari).

3. Memperbanyak membaca Tasbih:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

"Subhanallah wa bi-hamdih, Subhanallahil Adziim."
“Maha suci Allah, aku memuji-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung.

Ini berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ) رواه البخاري (6682) ومسلم (2694)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kalimat (dzikir) yang ringan diucapkan di lidah, (tapi) berat (besar pahalanya) pada timbangan amal (kebaikan), dan sangat dicintai oleh ar-Rahman (Allah Ta’ala Yang Maha Luas Rahmat-Nya), (yaitu): Subhaanallaahi wabihamdihi, subhaanallahil ‘azhiim (maha suci Allah dengan memuji-Nya, dan maha suci Allah yang maha agung).” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Memperbanyak membaca Sholawat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Bukhari, no: 3370 dan HR. Muslim, no: 406)

عن أبي هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا».

Artinya : “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat, maka Allah memberi rahmat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, No: 408)

5. Memperbanyak membaca Tahlil:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir."

Artinya: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” 

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barangsiapa mengucapkan ’laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu." (HR. Bukhari no. 3293)

6. Perbanyak membaca Doa Lailatul Qadar berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Artinya: "Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (dari kesalahan), mencintai maaf, maka maafkanlah aku (dari kesalahan-kesalahanku)".

Hendaknya memperbanyak membaca doa ini pada malam yang diharapkan sebagai malam lailatul qadar, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Sayidah Aisyah radhiyallahu 'anha ketika ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ: تَقُولِينَ: « اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى ».
Artinya:
"Wahai Rasulullah, jika aku mendapati lailatul qadar, apakah yang aku baca?, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hendaknya kamu mengucapkan: Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (dari kesalahan), mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku (dari kesalahan-kesalahanku)". (HR Ibnu Majah, no: 3850)

Jadi bagi saudari-saudariku tak perlu berkecil hati jika dalam keaadan haid di sepertiga terakhir bulan Ramadan. Selalu ada kesempatan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar dengan berbagai bentuk amalan dan ibadah lainnya. Tetap semangat meraih kemuliaan bulan suci Ramadan.

______________

* Oleh: Andi Kurniawan, Lc.
Jaminan Ampunan di Malam  Lailatul Qadar

Dalam sebuah hadits Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري: 1901، ومسلم: 759)
Artinya:
"Siapa yang qiyamullail di malam qadar dengan penuh keimanan dan perhitungan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits ini adalah dalil tentang keutamaan lailatul qadar dan melaksanakan qiyamullail di malam qadar, Malam Qadar adalah malam yang agung, Allah muliakan malam ini dan jadikan ia lebih baik dari seribu bulan, dalam keberkahan nya dan keberkahan amal saleh padanya, dia lebih utama dari ibdah seribu bulan, 83 tahun 4 bulan, oleh karena itulah siapa yang menghidupkan qiyamullail padanya dengan penuh keimanan dan perhitungan akan ampunan Allah, akan diampunkan dosa-dosanya, tentang keutamaan lailatul qadar ini turun firman Allah Ta'ala:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

Artinya:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan (3). Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (4)". (QS Ad Dukhan: 3-4)


Malam Qadar adalah malam yang berkah, malam yang banyak kebaikan nya; karena keutamaan yang dimilikinya dan besarnya pahala bagi yang beramal padanya. Diantara keberkahan malam lailatul qadar ini adalah Allah ta'ala turunkan AlQuran pada malam ini:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Artinya:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar (1). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (3). Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan (4). Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar (5)". (QS. Al Qadr: 1-5)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ke-3 dari surat ini dengan mengatakan: Banyak sekali malaikat yang turun dimalam ini, karena keberkahannya, dan para malaikat turun berserta berkah dan rahmat, sebagaimana juga malaikat turun ketika dibacakannya AlQuran, dan malaikat menaungi halaqoh-halaqoh zikir dan membentangkan sayap-sayap mereka sebagai penghormatan bagi para penuntut ilmu yang sungguh-sungguh.

Lailatul Qadar itu tidak diragukan lagi terjadi di bulan Ramadhan, karena Allah ta'ala menurunkan AlQuran padanya. Allah telah memberi tahu kita bahwa Alquran di turunkan di bulan Ramadhan dengan firmanNya:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar" (QS. Al Qadr: 1)


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an". (QS. Al Baqarah: 185)

Maksudnya bahwa AlQuran mulai turun dari Allah ta'ala kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam pada bulan Ramadhan.

Kata (إِيمَانًا) yang terdapat dalam hadits diatas, maksudnya: dengan penuh keimanan terhadap apa yang telah Allah ta'ala siapkan berupa pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang melakukan qiyamullail di malam lailatul qadar ini.

Dan maksud dari kata (احْتِسَابًا) adalah dengan penuh perhitungan dan harapan terhadap balasan dan pahala dari Allah ta'ala.

Maka malam qadar ini adalah malam yang mulia, malam yang Allah ta'ala pilih sebagai waktu permulaan turunnya AlQuran, maka kewajiban seorang muslim adalah mengetahui nilai dari malam qadar ini dan bersemangat untuk memperolehnya dan menghidupkan nya dengan penuh keimanan dan perhitungan untuk mendapatkan balasan dan pahala dari Allah ta'ala, moga-moga Allah ta'ala mengampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.

Oleh karena itulah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan kita agar tidak lupa dan lalai dari menghidupkan malam lailatul qadar, sehingga kita tidak terhalang untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan nya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  أتاكم شهرُ رمضانَ ، شهرٌ مبارَكٌ ، فرض اللهُ عليكم صيامَه ، تفتحُ فيه أبوابُ الجنَّةِ ، و تُغلَق فيه أبوابُ الجحيم ، وتُغَلُّ فيه مَرَدَةُ الشياطينِ ، وفيه ليلةٌ هي خيرٌ من ألف شهرٍ ، من حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ.(رواه النسائي)

Artinya:
Dari Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasullah sallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Telah datang kepada kalian Ramadhan bulan yang penuh berkah, Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan berpuasa di dalamnya, di dalamnya dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu para pemimpin setan, di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebh baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan kebaikan apapun".(HR. An-Nasai, no:2108)

Hendaknya memperbanyak membaca doa pada malam yang diharapkan sebagai malam qadar, dan membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam kepada Ummul Mukminin Sayidah Aisyah radhiyallahu 'anha ketika bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ: تَقُولِينَ: « اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى ».
Artinya:
"Wahai Rasulullah, jika aku mendapati lailatul qadar, apakah yang aku baca?, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hendaknya kamu mengucapkan: Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (dari kesalahan), mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku (dari kesalahan-kesalahanku)". (HR Ibnu Majah, no: 3850)

Jadi doa di malam Lailatul Qadar sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Artinya: "Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (dari kesalahan), mencintai maaf, maka maafkanlah aku (dari kesalahan-kesalahanku)".

10 Pendapat Ulama tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar.

Pertanyaan tentang kapan jatuhnya Lailatul Qadar atau kapan terjadinya Malam Qadar, merupakan salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan sepanjang masa, terutama pada Bulan Suci Ramadhan. Malam lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, karenanya malam ini didambakan oleh setiap muslim dengan harapan bisa mengisinya dengan ibadah kepada Allah Ta'ala. Waktu terjadinya lailatul qadar sangat misterius, tidak ada yang mengetahuinya. Tentu, siapa saja yang mendapatkannya termasuk orang yang paling beruntung di dunia ini.


Diantara keutamaan malam lailatul qadar adalah memperoleh pengampunan sebagaimana yang disebutkan pada hadis Abu Hurairah, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari no: 1901 dan Muslim no: 759).

Al Hafidz Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Baari menyebutkan: Ulama berbeda pendapat dalam menentukan kapan jatuhnya Lailatul Qadar, perbedaan itu mencapai 46 pendapat, Al Hafidz Al Iroqi menyebutkan perbedaan itu mencapai 25 pendapat, bahkan ada ulama kontemporer yang mengatakan perbedaan pendapat itu mencapai 60 pendapat.

Perbedaan pendapat ulama tersebut bukan karena para ulama tidak mampu mendapatkan dalil, tetapi justru karena tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan kapan waktunya.

Dari sekian banyak perbedaan pendapat para ulama tentang waktu terjadinya lailatul qadar, berikut ini 10 pendapat para ulama yang bisa dijadikan rujukan.

Pendapat Pertama: Lailatul Qadar itu terjadi di bulan ramadhan secara khusus, bisa terjadi pada semua malam Ramadhan, sejak malam pertama hingga malam terakhir tapi tidak diketahui pada malam ke berapa. Pendapat ini adalah pendapat Abu Hurairoh, Ibnu Abbas, Abu Dzar, Alhasan Albashri, dan ini juga pendapat Abu Hanifah, Ibnul Munzir dan sebagian Ulama Syafi'iyah, dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Assubki [1].

Pendapat Kedua: Lailatul Qadar jatuh pada malam pertama Ramadhan. Pendapat ini adalah pendapat Abu Razin Al Uqaili [2]

Pendapat Ketiga: Lailatul Qadar adalah malam ke-17 tujuh belas Ramadhan [3].

روى بنُ أَبِي شَيْبَةَ وَالطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ مَا أَشُكُّ وَلَا أَمْتَرِيَ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ أُنْزِلَ الْقُرْآن

Ibnu Abi Syaibah dan At-thabrany meriwatkan dari Zaid bin Arqam bahwasanya dia berkata: saya tidak syak dan tidak ragu bahwa lailatul qadar adalah malam ke-17 Ramadhan, malam diturunkannya AlQur'an. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan At-Thabrani).


Pendapat Keempat: Lailatul Qadar adalah malam pertama dari sepuluh malam terakhir Ramadhan. Imam Syafi'i lebih cenderung kepada pendapat ini, dan sekelompok ulama Mazhab Syafi'iyah menegaskan malam qadar jatuh pada malam ini [4].

Pendapat Kelima: Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23 Ramadhan. Ini pendapat Ibnu Abbas, Bilal, Aisyah, Anis Aljuhani dan Ibnul Masayyib [5]. (HR. Abdur Razzaq, No:7687).

Pendapat Keenam: Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-24 Ramadhan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas. (HR. Bukhori, No: 2022)

Pendapat Ketujuh: Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29 Ramadhan. Ini diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan selainnya. (HR. Ibnu Khuzaimah, No: 2194)

Pendapat Kedelapan: Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadhan. Ini pendapat sekelompok Sahabat Radhiyallahu 'Anhum, diantara mereka: Ubai bin Ka'ab, Anas bin Malik, dan ini juga pendapat Zir bin Hubaisy dari Ulama Tabi'in [6]. (HR. Abdur Razzaq, No:7701).

Pendapat Kesembilan: Malam Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam 10 terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antaranya Madzhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, serta Al-Auza’i dan Abu Tsaur [7].

Pendapat Kesepuluh: malam Qadar itu berpindah-pindah tiap tahun pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan dari satu malam ke malam lainnya [8].

Pendapat ini menggabungkan antara hadits-hadits yang diriwayatkan tentang penentuan malam qadar pada malam-malam yang berbeda dari bulan Ramadhan secara umum dan dari sepuluh malam terakhir secara khusus. Dimana tidak ada cara untuk menggabungkan hadits-hadits itu kecuali dengan mengatakan bahwa malam Qadar itu jatuh pada malam yang berbeda-beda dari sepuluh malam terakhir Ramadhan setiap tahunnya.

Berdasarkan ini, maka malam qadar di tahun Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu melihat Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sujud di air dan lumpur adalah pada malam ke-21, sementara di tahun Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Abdullah bin Unais untuk datang dari Badui agar sholat di mesjid adalah pada malam ke-23, sedangkan ditahun Ubai bin Ka'ab melihat tanda-tandanya malam qadar jatuh pada malam ke-27, dan terkadang tanda-tandanya bisa terlihat pada malam selain malam-malam ini, dan ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad, At-tsaury, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Qilabah, AlMuzani, Abu Bakar muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Al Mawardi dan Ibnu Hajar al Asqolani dari Ulama Syafi'iyah.

Imam An-Nawawi mengatakan: Pendapat ini adalah pendapat yang kuat, karena pertentangan hadits-hadits shahih tentang hal ini, dan tidak cara untuk menggabungkan antara hadits-hadits ini kecuali dengan mengatakan bahwa malam qadar itu berpindah-pindah dari satu malam kemalam lainnya dari sepuluh malam terakhir ramadhan, bahkanada yang mengatakan bahwa malam qadar itu berpindah-pindah dari satu malam ke malam-malam ramadhan yang lain.


____________

Referensi:

[1]. Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Baari, Jilid 4, Hal: 263, Cet. Darul Ma'rifah Beirut, 1379 H.
[2]. Ibid.
[3]. Ibid.
[4]. Ibid.
[5]. Abdul Razzaq, Al Mushonnaf, Jilid 4, Hal: 249, No: 7687, Cet. Al-Majlis Al'Ilmi India, Cet. kedua 1403 H.
[6]. Abdul Razzaq, Al Mushonnaf, Jilid 4, Hal: 253, No: 7701, Cet. Al-Majlis Al'Ilmi India, Cet. kedua 1403 H.
[7]. Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Baari, Jilid 4, Hal: 265, Cet. Darul Ma'rifah Beirut, 1379 H
[7]. Ibid.

Doa Menyambut Hilal Bulan Ramadhan Sesuai Sunnah

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى الهلال في رمضان وفي غيره يقول‏:‏ « اللَّهُ أَكْبَر ‏اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَان والسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَام رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللَّه » ‏ ‏رواه الترمذي

Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam ketika melihat Hilal Ramadhan dan bulan lainnya berdoa: "Allah Maha Besar, Yaa Allah hadirkan  awal bulan ini (Ramadhan) kepada kami dengan penuh keberkahan  dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah." (HR. Tirmidzi)



Dalam riwayat lain Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ

Allāhumma sallimnī li Ramadhāna, wa sallim Ramadhāna lī, wa sallimhu minnī.

Artinya: "Ya Allah, selamatkanlah aku (dari penyakit dan uzur lain) demi (ibadah) Bulan Ramadhan, selamatkanlah (penampakan hilal) Ramadhan untukku, dan selamatkanlah aku (dari maksiat) di Bulan Ramadhan." (HR. Iman At Thabarani dan Imam Ad Dailami.)


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 H, Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan semoga kita semua di jauhkan oleh Allah SWT dari segala macam penyakit dan bahaya, diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan ibadah puasa dengan sempurna, Allahumma Aamiin.
Tips Agar Tetap Semangat Menjalankan Ibadah Ramadhan Selama Pandemi.

Bagi umat Islam ada satu bulan yang sangat bermakna dan dinantikan kedatangannya setiap tahun. Bulan ini penuh dengan amalan dan ibadah mulia yang berlipat ganjarannya. Bulan ini dikenal dengan bulan ampunan dan bertepatan dengan bulan ke-9 Tahun Hijriyah.

Bulan Ramadhan adalah waktu yang padanya umat Islam menunaikan Rukun Islam ketiga yaitu Puasa. Ramadhan tahun ini akan berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, karena pada Ramadhan kali ini dunia keadatangan tamu yang mematikan, yaitu sebuah virus yang penyebarannya sangat cepat, dan belum ditemukan vaksin yang mampu untuk memusnahkannya, ialah Virus Korona, Covid-19.

Semenjak virus ini melanda tanah air Indonesia, Umara telah mengeluarkan himbauan untuk tidak melaksanakan kegiatan yang sifatnya menghimpun masa. Majelis Ulama juga telah mengeluarkan fatwa untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah di Mesjid sementara waktu, termasuk didalamnya ibadah shalat jum'at.

Kebijakan ini tentu akan mempengaruhi Nuansa Ramadhan yang kita alami selama ini, karena shalat tarawih (qiyamullail) berjama'ah dan I'tikaf di Mesjid-Mesjid ditiadakan, acara buka bersama, serta kegiatan-kegiatan Ramadhan lainnya yang mengumpulkan banyak  orang di satu tempat.


Lalu, bagaimana kita menyiasati hari-hari di Bulan Mulia ini? Yuk, simak 10 tips dari zawiyah fiqih agar kita tetap bersuka-cita melalui Ibadah Ramadhan tahun ini.

1. Yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah ketetapan Allah SWT.

Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita meyakini dan percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ini tidak akan pernah terjadi tanpa kuasa Allah, pencipta alam semesta. Sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aala:


قُل لَّن یُصِیبَنَاۤ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَاهُوَمَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah ayat 51).

Semua yang terjadi sudah termaktub di Lauhul Mahfuzh baik perkara agama maupun dunia. Maka  sebagai hamba-Nya kita wajib ridha terhadap takdirNya. Tugas kita hanya melaksanakan ikhtiar terbaik. Hanya kepada Allah-lah kita bertawakkal, Allah akan mendatangkan maslahat dan menolak mudarat dengan bersandar kepadaNya. Adapun orang yang bertawakal kepada selainNya, maka dia akan terlantar dan tidak berhasil meraih apa yang diangan-angankannya.

2. Selalu bersyukur dan bersabar atas situasi dan kondisi saat ini.

Jika seseorang beriman kepada takdir Allah, maka jiwanya akan tenang dan hatinya akan lapang dengan apa pun yang terjadi pada dirinya, termasuk hal-hal yang tidak disukainya. Sebab, dia meyakini bahwa musibah-musibah yang dia terima telah Allah tetapkan atas dirinya. Untuk melalui ketetapan ini tentu harus diiringi dengan sabar dan penuh syukur.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,

عَجَبًا لِّأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ؛ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Seluruh urusannya merupakan kebaikan, dan ini tidak dimiliki kecuali oleh orang beriman. Jika mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu baik baginya; jika tertimpa musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)

3. Husnuzzhan bahwa Allah sedang memberikan kesempatan lebih untuk kita bermanja dan mengadu pada-Nya.

Prasangka bukanlah hal yang sepele, jika kita berbaik sangka maka akan baik pula kenyataan yang akan kita hadapi. Namun jika berburuk sangka, maka buruk pula realita yang akan kita jumpai. Karena Allah subhaanahu wa ta'aala mengikuti prasangka hambaNya.

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَإِنْ ظَنَّ بِيْ خَيْرًا فَلَهُ الخَيْرُ فَلَا تَظُنُّوْا بِاللهِ إِلَّا خَيْرًا

Artinya: Aku menuruti prasangka hambaKu, jika ia berprasangka baik padaKu, maka baginya kebaikan. Maka, jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan.

4. Memperbanyak zikir dan sholawat di penghujung Bulan Sya'ban ini.


Bulan Sya'ban tinggal hitungan hari, masih tersedia kesempatan bagi kita untuk melatih diri, memperbanyak ibadah sunnah seperti berzikir, bershalawat kapan dan dimanapun berada asal tidak di tempat yang dilarang. Ssstt, dalil shalawat turun pada Bulan Sya'ban, loh.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan menyebut namaNya sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41)

5. Sentiasa berdo'a agar Allah izinkan kita mampu melewati Bulan Suci Ramadhan dengan kemenangan.

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Dan Rabb-mu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mu’min : 60)

Do'a adalah salah satu sarana seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhannya. Do'a tidak hanya sebagai wadah menyampaikan harapan dan memohon ampunan tapi memanjatkannya juga dinilai ibadah disisi Allah. Jadi, jangan pernah berhenti berdoa ya!

6. Tidak mengeluhkan wabah yang sedang terjadi.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:  "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

Tidak sedikit dari kita yang mengeluh, kesal, sedih karena kegiatan kita selama pandemi ini sangat terbatas. Kantor, sekolah, pasar bahkan transportasi hari demi hari terancam lumpuh. Tapi, akankah keadaan menjadi lebih baik bila kita mengeluh? Sejenak mungkin kita merasa lega setelah mengeluh tetapi percayalah rasa ini tidak akan bertahan lama. Sebab, pun keluhan kita tidak dapat menggantikan vaksin yang dapat melenyapkan covid-19. 

7. Melihat sisi positif dan kebaikan Ramadhan pada masa ini.

Meski dihantui virus, kemuliaan Bulan Ramadhan pada masa pandemi ini tidak berkurang. Ia tetaplah bulan mulia, penuh ampunan dosa, amalan dilipat ganda, bulan dibukanya pintu Syurga ditutupnya Neraka, bulan penuh syafa'at dan lainnya. Kebaikan pada Bulan Ramadhan kali ini tetaplah sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Maka, jadikan situasi ini sebagai sarana memupuk kedekatan antar anggota keluarga, ladang amal bagi para orangtua menghidupkan Ramadhan meski dari dalam rumah namun InsyaAllah tetap dapat meraih jannah. Hidupkan Ramadhan dari dalam rumah hingga keberkahannya tidak berlalu begitu saja dihadapan kita.

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “...dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-Baqarah : 195).

Dalam salah satu khutbah menjelang Ramadhan, Rasulullah mengungkapkan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaki).

8. Meyakini bahwa setiap ketetapan Allah sarat akan hikmah, sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Saat ini mungkin tidak semua kita mengetahui atau merasakan apa hikmah dibalik situasi pandemi ini. Sebab, pendengaran dan suasana di sekitar kita tidak pernah puasa menyuarakan pandemi ini. Tapi bila kita berkaca kembali mematut diri, barangkali ini merupakan jalan baru yang Allah buka untuk kita mendekatkan diri pada Allah, alarm untuk bertaubat, sarana menambah pengetahuan agama maupun umum, meraih rezeki dengan cara berbeda, dan mengasah peka terhadap sesama umat manusia, juga melatih kreatifitas dalam berkarya. Jalan itu tentu tidak akan dapat dilihat secara kasat mata. Yuk, lapangkan hati dan improve diri!

9. Patuh kepada fatwa ulama dan aturan pemerintah, karena salah satu pilar syari'at adalah hifzunnafsi (menjaga diri). Tidaklah peraturan dan keputusan ini dibuat melainkan untuk kebaikan kita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْأاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا 

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' : 59)

Fatwa majelis ulama dan aturan pemerintah tidak diputuskan tanpa pertimbangan. Semua itu semata-semata dilakukan sebagai usaha untuk menjaga keselamatan diri, keluarga dan saudara-saudara kita, juga sebagai bentuk kepatuhan kita kepada Umara dan Ulama sebagaimana firman Allah Ta'ala di atas.

10. Buat target ibadah Ramadhan bersama keluarga, teman atau sahabat.


Keberkahan bulan Ramadhan tidak hanya milik seorang insan saja, tetapi  kenikmatannya akan lebih indah jika ditegakkan bersama anggota keluarga. Hal ini dapat dicapai jika seluruh anggota keluarga bekerja sama dan saling berlomba dalam menunaikan ibadah dan amalan Ramadhan, seperti shalat malam (taraweh, witir), tilawah, zikir, shalat dhuha dan sebagainya.

Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang Allah perintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)

Pada ayat ini Allah subhaanahu wa ta'aala menyeru orang beriman untuk memelihara keluarganya agar terhindar dari api neraka. Sayyidina Ali radhiyallaahu 'anhu juga berkata, “Ajari dirimu dan keluargamu kebaikan, didiklah mereka untuk itu.” Secara umum kepala keluarga bertanggung jawab melindungi anggota keluarganya dari siksaan api neraka dengan mengajarkan kepada anggota keluarganya ilmu agama dan akhlak yang mulia.

Umar bin Khattab juga rutin bangun malam, untuk melaksanakan shalat tahajjud dan membangunkan keluarganya untuk shalat, “Shalat…shalat...” Kemudian membaca ayat,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." ( QS. Thaha : 132)

Pada kitab Hilyatul Auliya' (2/384) disebutkan, Malik bin Dinar melihat seorang laki-laki yang shalatnya tidak benar. Ia berkata, “Aku Kasihan kepada keluarganya.” Seorang bertanya padanya, “Abu Yahya, orang ini shalatnya tidak benar, tetapi mengapa engkau justru kasihan kepada keluarganya?” ia menjawab, “Ia adalah orang yang paling tua di antara mereka, dan darinyalah keluarganya belajar."

Wallaahua'lam

Semoga tips ini bermanfaat dan dapat membakar semangat teman-teman menjalankan Ibadah Ramadhan tahun ini, yaa... Aamiin

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
ditulis oleh: Admin Zawiyah Fiqih Official