Articles by "Tajwid"
Tampilkan postingan dengan label Tajwid. Tampilkan semua postingan
Makharijul Huruf adalah salah satu pembahasan yang sangat penting dalam Ilmu Tajwid. Karena, ketepatan pelafalan bunyi suatu huruf sangat dipengaruhi oleh asal suara/bunyi huruf tertentu itu diucapkan. Dalam bukunya At-Tahdiid fil Itqaani wat-tajwiid, Imam Ad-Daani menuliskan bahwa, "Sesungguhnya poros ilmu tajwid adalah mengetahui tempat-tempat keluarnya bunyi suatu huruf beserta sifat-sifat huruf tersebut."

Apa itu Makhraj?

Secara bahasa Makhraj artinya adalah tempat keluarnya sesuatu (re:huruf).
Sedangkan secara istilah, Makhraj adalah tempat keluar dan munculnya suatu huruf dengan bunyi tertentu sehingga membedakan bunyi huruf tersebut dengan huruf-huruf lainnya.

Bagaimana cara mengetahui tempat keluar suatu huruf?

Kita dapat mengetahui tempat keluar suatu huruf (arab) tersebut dengan mengucapkan hamzah (أ) berharakat, misalnya fathah, kemudian menyukunkan huruf atau bisa juga dengan memberi tasydid huruf yang ingin kita ketahui makhrajnya. Maka, akhir sumber suara yang terdengar adalah makhraj atau tempat keluar huruf tersebut.

Contoh:
Mengetahui makhraj huruf ب dengan cara berikut: أَبْ atau أَبَّ


Apa itu Huruf?

Huruf secara bahasa artinya sisi sesuatu.
Sedangkan menurut istilah, Huruf adalah suara yang bersumber dari bagian (tempat) tertentu.

Ulama berbeda pendapat mengenai total jumlah huruf hijaiyah, kepada:

1. Huruf Hijaiyyah terdiri dari 28 huruf, dengan menyamakan huruf alif dengan hamzah. Sebagai berikut:

 أ ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ي

2. Huruf hijaiyyah terdiri dari 29 huruf, dengan membedakan antara huruf alif dan hamzah. Sebagai berikut:

ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ء ي

3.Huruf hijaiyyah terdiri dari 30 huruf, dengan menambahkan ghunnah sebagai huruf yang ke-30. Sebagai berikut:

 ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ء ي غنّة

Imam At-Thiibi dan Imam Jazary (Penulis matan tajwid) memilih pendapat yang kedua bahwa huruf hijaiyyah terdiri dari 29 huruf.

Pembagian Huruf

1. Huruf Ma'aani yaitu huruf yang menunjukkan makna (yang kita pelajari dalam Ilmu Nahwu), seperti: على - من - إلى, dan lainnya.
2. Huruf Mabaani yaitu huruf-huruf hijaiyyah, seperti: ب - ي - س  dan seterusnya.

Huruf Mabani terbagi dua bagian:

1. Huruf Mabaani Asli yaitu 29 huruf-huruf hijaiyyah.
2. Huruf Mabani Far'i yaitu huruf yang keluar dari dua makhraj (tempat keluar suara) sehingga suara yang dihasilkan bergema antara dua huruf atau dua sifat huruf. Huruf ini memiliki bunyi tapi tidak ada tulisan tertentu.

Ada empat perbedaan ulama mengenai jumlah makharijul huruf

1. Sebagian ulama mengatakan bahwa ada 29 makharijul huruf sesuai dengan jumlah huruf hijaiyyah. Setiap huruf memiliki makhraj tersendiri. Karena jika masing-masing huruf tidak memiliki makhraj khusus maka suara suatu huruf akan bercampur dengan suara huruf lainnya dan akan ada persamaan bunyi antara huruf yang satu dengan yang lainnya.

2. Khalil bin Ahmad al-Farahidi dan Ibnu Jazari mengatakan bahwa ada 17 makharijul huruf hijaiyyah (ini adalah pendapat mayoritas ulama dan dipilih oleh ulama qiroat).

3. Sibawaihi dan Imam Syathibi mengatakan bahwa ada 16 makharijul huruf hijaiyyah. Menurut pendapat ini rongga tenggorokan (aljauf) bukanlah makhraj. Huruf-huruf mad pada makhraj aljauf dibagi sesuai makhraj huruf tersebut ketika berharakat.

4. Al-Farraa' dan al-Jurumi mengatakan ada 14 makharijul huruf hijaiyyah. Pendapat ini juga tidak menjadikan rongga tenggorokan (aljauf) sebagai makhraj, dan menjadikan huruf ل - ن - ر bersumber dari satu makhraj yang sama hingga membagi makhraj lisan kepada delapan bagian.

Pembagian Makharijul Huruf

Makharijul huruf terbagi dua:

1. Makhaarij 'Ammah (Umum)/Raiisiyyah
  • Al-Jauf (Rongga Tenggorokan)
  • Al-Halqi (Tenggorokan)
  • Lisan (Lidah)
  • Asy-Syafataan (Bibir)
  • Alkhaysyum (Rongga Hidung)

2. Makhaarij Khaasshah (Khusus)/Far'iyyah
  • Al-Jauf (Rongga Tenggorokan) : terdiri dari satu makhraj aljauf, huruf mad ( ا - و- ي
  • Al-Halqi (Tenggorokan) : terdiri dari tiga cabang makhraj.
    • Aqshal Halqi (Pangkal Tenggorokan), huruf ء dan ه.
    • Wasthul Halqi (Tengah Tenggorokan), huruf ع dan ح.
    • Adnal Halqi (Ujung Tenggorokan), huruf غ dan خ.
  • Lisan (Lidah) : terdiri dari sepuluh cabang makhraj.
    • Aqshal Lisan (Pangkal lidah dengan langit-langit mulut belakang), huruf ق.
    • Aqshal Lisan (Pangkal lidah dengan langit-langit mulut tengah), huruf ك.
    • Wasthul Lisan (Tengah Lidah), huruf ج ي ش.
    • Haafatul Lisan (Pangkal Tepi Lidah), huruf ض.
    • Haafatul Lisan (Ujung Tepi Lidah tulang keras langit-langit depan), huruf ل.
    • Tharaful Lisan (Ujung Lidah dengan pangkal tulang yang keras langit-langit), huruf ن.
    • Tharaful Lisan (Ujung Lidah dengan langit-langit depan), huruf ر.
    • Tharaful Lisan (Ujung Lidah dengan Ujung Gusi tempat tumbuh gigi seri atas), د ت ط.
    • Tharaful Lisan (Ujung Lidah), huruf ص زس.
    • Tharaful Lisan (Ujung Lidah dengan ujung gigi seri atas), huruf ظ ذ ث.
  • Asy-Syafataan (Bibir) : terdiri dari dua cabang makhraj.
    • Bathnus Syafah (Ujung gigi seri atas dengan bagian perut bibir bawah yang basah), huruf ف.
    • Asy-Syafataan (Bibir atas dengan bibir bawah), huruf و ب م.
  • Alkhaysyum (Rongga Hidung) : terdiri dari satu cabang makhraj, huruf ghunnah (dengung), ن  dan م.
Semoga bermanfaat. Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai makharijul huruf, tunggu tulisan selanjutnya, yaa..

 
Hukum Ta'awudz dan Cara Membacanya:

Ta'awudz (isti'adzah) merupakan permintaan perlindungan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari setan yang dirajam (terkutuk).

Ada tiga lafazh ta'awudz (isti'adzah) yang boleh dibaca ketika memulai bacaan Al-Qur'an, yaitu:
  • أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (Lafazh yang paling utama)
  • أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
  • أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
Hukum membaca ta'awudz/Isti'adzah ketika memulai membaca Al-Quran adalah Sunnah/Mustahab dan ada pendapat lain yang mengatakan wajib berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam Surat An-Nahl: 98:

فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Artinya: "Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk."


Apakah Ta'awudz/isti'adzah dibaca keras (jahr/didengar orang lain) atau tanpa mengeluarkan suara (sirr)?

1. Ta'awudz/isti'adzah dibaca jahar ketika memulai bacaan Al-Quran dalam sebuah perkumpulan atau perayaan juga ketika sedang belajar membaca Al-Qur'an dan dibaca sirr ketika sholat atau sedang membaca sendiri.

2. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa menjaharkan lafaz ta'awudz/isti'adzah tidaklah mutlak akan tetapi ada beberapa keadaan yang membolehkan ta'awudz/sti'adzah dibaca sirr, seperti:
  • Jika seorang qari membaca sendiri.
  • Apabila dia membaca dengan sirr ditengah orang ramai.
  • Apabila datang gilirannya membaca Al-Qur'an dalam s halaqoh dan dia bukan orang yang pertama kali membaca.
Bagaimana membaca ta'awudz/isti'adzah dalam sholat?
Ta'awudz/isti'adzah dibaca sirr baik dalam sholat jahar maupun sholat sirr.

Jika bacaan Al-Qur'an terputus, haruskah mengulang ta'awudz/isti'adzah kembali?
Apabila seseorang mengawali bacaan ta'awudz/sti'adzah dengan jahr, kemudian bacaannya terputus dengan pembicaraan diluar bacaan (pembicaraan yang tidak berhubungan dengan bacaan). Maka, ia dianjurkan melanjutkan bacaan dengan memngulang isti'adzah kembali. Kecuali, jika bacaan terputus karena keadaan darurat seperti batuk, bersin atau pembicaraan yang masih berkaitan dengan Al-quran atau bacaan. Maka bacaan ta'awudz tidak perlu diulang. [1]


Cara-cara Membaca Ta'awudz/Isti'adzah:

1. Cara membaca Ta'awudz diawal surat
  • Memutus/berhenti setelah membaca ta'awudz kemudian membaca basmalah, lalu membaca awal ayat surat yang ingin dibaca.
  • Memutus/berhenti setelah membaca ta'awudz kemudian membaca basamalah bersambung dengan awal ayat pada surat yang dibaca.
  • Menyambung bacaan ta'awudz dengan basmalah kemudian membaca awal ayat surat yang ingin dibaca.
  • Menyambung bacaan ta'awudz, basmalah dan awal ayat surat yang ingin dibaca.

2. Cara membaca ta'awudz dan basmalah di tengah surat

Maksudnya seseorang memulai bacaan Al-Qur'annya di pertengahan surat, seperti memulai bacaan pada awal juz yang bukan awal surat, awal hizb, atau ayat lainnya. Maka, ia boleh memilih ingin membaca basmalah setelah ta'awudz atau tidak membaca basmalah.

- Jika membaca basmalah setelah isti'adzah maka ia boleh memilih salah satu dari cara yang empat diatas.

- Namun, apabila ia tidak membaca basmalah, maka ia boleh memilih satu dari dua cara berikut ini:
  • Memutus/berhenti setelah membaca ta'awudz kemudian membaca awal ayat surat yang ingin dibaca. Dan cara ini lebih diutamakan/dianjurkan untuk diamalkan.
  • Menyambung bacaan ta'awudz, basmalah dan awal ayat surat yang ingin dibaca.

Hukum Basmalah dan Cara Membacanya:
Tidak ada perbedaan pendapat Ulama Qiroat (Qurra') tentang hukum membaca basmalah di setiap awal surat kecuali surat At-Taubah.

Teks atau lafaz basmalah adalah:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِیْمِ

Artinya: “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

Bagaimanakah hukum membaca basmalah dalam sholat?
Boleh Jahr (keras), atau tidak Jahr (tidak dibaca keras), sesuai madzhab fiqih masing-masing.

Cara-cara Membaca Basmalah:

1. Cara membaca basmalah di antara dua surat, adalah:

  • Menyambung akhir ayat surat yang sedang dibaca dengan basmalah dan dengan awal ayat surat berikutnya.
  • Memutus akhir ayat surat yang sedang dibaca dengan basmalah dan dengan awal ayat surat berikutnya.
  • Berhenti pada akhir ayat surat yang sedang dibaca, lalu menyambung basmalah dengan awal ayat surat berikutnya.

Penting: Dilarang menyambung akhir ayat yang sedang dibaca dengan basmalah lalu berhenti, kemudian melanjutkan bacaan langsung pada ayat pertama surat berikutnya. Tahukah mengapa? agar tidak menganggap basmalah sebagai lanjutan dari surat sebelumnya yang sedang dibaca. Seolah-olah basmalah termasuk ayat pada surat yang terakhir dibaca.

2. Cara membaca akhir ayat surat Al-Anfal dengan awal surat At-Taubah

Hanya ada satu surat di dalam Al-Qur'an yang tidak diawali dengan basmalah yaitu Surat At-Taubah. Hal ini dikarenakan Surat At-Taubah merupakan surat yang diawali dengan seruan perang sedangkan kalimat basmalah mengandung makna kasih sayang sehingga tidak mungkin sebuah peperangan dilandasi dengan rasa kasih sayang. Lafaz basmalah di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 114 kali, di setiap awalan surat yang 113 dan pada QS. An-Naml ayat 30.

Cara membaca akhir ayat surat Al-Anfal: 75 dengan awal surat At-Taubah: 1 ada tiga cara, yaitu:
  • Berhenti pada akhir surat Al-Anfal (عَلِيمٌۢ), lalu mengambil nafas kemudian melanjutkan bacaan dengan memulai ayat pertama surat At-Taubah (...بَرَآءَةٌ)
  • Berhenti pada akhir surat Al-Anfal (عَلِيمٌۢ) dengan saktah (saktah: berhenti sejenak tetapi tidak boleh mengambil nafas), lalu melanjutkan bacaan ayat pertama surat At-Taubah (...بَرَآءَةٌ)
  • Menyambung akhir ayat surat Al-Anfal (عَلِيمٌۢ) dengan ghunnah dua harakat (Iqlab) dengan awal ayat surat At-Taubah (...بَرَآءَةٌ)


➧Ulama berpendapat bahwa membaca basmalah di beberapa tempat berikut ini lebih dianjurkan dibanding meninggalkan bacaan basmalah ketika memulai bacaan Al-Qur'an:

1. Ayat-ayat yang dimulai dengan asmaul husna, seperti:


ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

Artinya: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy." (Qs. Thaha: 5)


ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ


Artinya: "Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Qs. Al-Baqarah: 257)

2. Ayat-ayat yang dimulai dengan dhamir (kata ganti) Allah Subhaanahu wa Ta'aala, seperti:


إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ

Artinya: "Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat." (Qs. Fussilat: 47)


3. Ayat yang dimulai dengan sayyidina Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam, seperti:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ

Artinya: "Muhammad itu adalah utusan Allah" (Qs. Al-Fath: 29)


➧Ulama juga mengisyaratkan untuk tidak membaca basmalah ketika memulai bacaan Al-Qur'an pada ayat-ayat berikut ini:[2]

• Qs. An-Nisa : 118

لَّعَنَهُ ٱللَّهُ

Artinya: "Yang dilaknati Allah"

• Qs. Al-Baqarah : 268

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ

Artinya: "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)"

Wallaahu a'lam bis shawab

[1] Kitab An-Nasyr fii Qiroaatil 'Asyr (Hal. 259/Jilid 1).
[2] Kitab An-Nasyr fii Qiroaatil 'Asyr (Hal. 266/Jilid 1).

____________________

* Oleh: Dini Mukhlishati, Lc.


Al-Lahnu/Lahn

Al-Lahnu/Lahn secara bahasa berarti salah atau jauh dari kebenaran.
Sedangkan menurut istilah ilmu tajwid, Al-Lahnu berarti kesalahan dalam mengucapkan huruf atau kata-kata dalam Al-Qur'an baik dari segi i'rab nahwu ataupun kaedah tajwid.

Kesalahan dalam membaca Al-Qur'an ini terbagi kepada dua jenis:

1. Al-Lahnul Jali (اللحن الجلي)

2. Al-Lahnul Khafi (اللحن الخفي)


Apa perbedaan dari keduanya? Yuk, simak penjelasan berikut ini:

1. Al-Lahnul Jaliy (اللحن الجليّ)

Adalah kesalahan yang terjadi pada lafaz-lafaz yang melanggar kaedah membaca Al-Qur'an, kesalahan ini dapat mengganti makna bacaan atau tidak mengganti arti atau makna suatu bacaan. Kesalahan ini dinamakan dengan Al-Lahnul Jaliy (اللحن الجليّ) karena kesalahan ini sangat jelas dapat diketahui oleh siapapun yang mendengar dan menyimak bacaan Al-Qur'an tersebut.

Contoh-contoh Al-Lahnul Jaliy (اللحن الجليّ) atau kesalahan yang jelas adalah:

Mengganti Harakat suatu huruf dengan Harakat lainnya

Contoh seseorang membaca أَنْعَمْتُ (an'amtu) pada kata أَنْعَمْتَ (an'amtadalam Surat Al-Fatihah ayat 7. Pergantian harakat fathah menjadi dhammah ketika mengucapkan kata ini termasuk salah Jali atau Al-Lahnul Jali (اللحن الجلي). Kesalahan pada bacaan ini sangat fatal karena dapat merubah atau mengganti makna bacaan.

أَنْعَمْتُ berarti telah aku beri nikmat sedangkan أَنْعَمْتَ berarti telah Engkau (Allah) beri nikmat.
Contoh kedua kesalahan mengganti harakat namun tidak mengganti arti kata adalah potongan ayat berikut ini الْحَمْدُلِلَّهِ dibaca الْحَمْدُلِلَّهُ atau الْحَمْدُلِلَّهَ. Ketiga kata ini  sama-sama berarti Segala Puji Bagi Allah.

Mengganti suatu huruf dengan huruf lainnya

Contoh seseorang membaca kata يَطْبَعُ (yathba'u) yang berarti menutup dengan يَتْبَعُ (yatba'u) yang memiliki arti mengikuti.

Contoh lainnya membaca kata عَسَى ('asaa) yang berarti barangkali dengan عَصَى ('ashaa) yang memiliki arti mendurhakai, melanggar.

Menambah huruf pada kata yang sedang dibaca

Contoh وَلَتُسْئَلُنَّ dibaca وَلَاتُسْئَلُنَّ menambahkan alif setelah huruf lam (ل) sehingga merubah arti atau makna bacaan yang sedang dibaca.

• Mengurangi huruf pada kata yang sedang dibaca

Contoh وَلَا تَمُوْتُنَّ dibaca وَلَتَمُوْتُنَّ menngurangi alif setelah huruf lam (ل) sehingga tidak dibaca panjang sehingga merubah arti atau makna bacaan yang sedang dibaca.

• Mengganti harakat sukun menjadi harakat fathah, kasrah atau dhammah atau sebaliknya

Contoh: كُفُوًا أَحَدٌ dibaca كُفْوًا أَحَدٌ

Ulama sepakat bahwa hukum membaca Al-Qur'an dengan kesalahan seperti yang dicontohkan diatas adalah haram jika orang yang membaca Al-Qur'an sengaja melakukan kesalahan dalam bacaannya atau sengaja lalai ketika membaca Al-Qur'an.

2. Al-Lahnul Khafi (اللحن الخفي)

Adalah kesalahan yang terjadi pada lafaz-lafaz yang melanggar kaedah membaca Al-Qur'an, tetapi kesalahan ini tidak mempengaruhi arti atau makna suatu bacaan, kesalahan ini terjadi karena kurang sesuai dengan kaedah tajwid suatu huruf. Kenapa dinamakan dengan Al-Lahnul Khafi (اللحن الخفي)? karena, kesalahan ini hanya dapat diketahui oleh orang yang 'aalim belajar, paham dan mengerti ilmu tajwid, biasanya kesalahan ini tidak disadari dan diketahui oleh orang pada umumnya.

Al-Lahnul Khafi (اللحن الخفي) dapat dibagi dua:

- Kesalahan yang diketahui oleh orang yang mengetahui ilmu tajwid dan pandai membaca Al-Qur'an

Kesalahan ini terjadi pada salah satu hukum dari hukum-hukum tajwid, seperti kurangnya dengung pada idgham, ikhfa dan sejenisnya, atau kata yang seharusnya dibaca izhar/jelas dibaca dengung, bacaan yang seharusnya panjang dibaca pendek, dan sebagainya.

Contohnya seseorang membaca kata مَاءٍ dengan satu harakat saja.

Contoh lainnya مَنْ كَانَ dibaca jelas/izhar seharusnya dibaca ikhfa disertai dengung 2 harakat.

- Kesalahan yang hanya diketahui oleh orang yang mahir dalam ilmu tajwid dan ilmu yang berhubungan dengan bacaan Al-Qur'an (Ulama Qurra')

Contohnya:

• Pengulangan bunyi "rrr" pada huruf ر

• Huruf yang seharusnya tipis tetapi dibaca tebal (kecuali pada lafaz اللَه)

• Berlebih atau berkurangnya kadar panjang (mad) pada bacaan Al-Qur'an

• Huruf bertasydid dibaca sama dengan ketika huruf tersebut tidak bertasydid.

• Berhenti pada suatu bacaan dengan harakat sempurna (tidak disukunkan atau sebagaimana tatacara berhenti/waqaf pada ilmu tajwid).

• dan lain-lain.

Diriwayatkan Musa bin Yazid Al-Kindi dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu bahwa ada seseorang yang membacakan Al-Qur'an kepada beliau, ia membaca إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ (QS.At-Taubah : 60) tanpa mad (panjang). Lalu, Abdullah bi Mas'ud berkata: "(Tidak seperti ini Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memperdengarkan bacaan ayat ini kepadaku", lalu seseorang tadi bertanya; "Lalu bagaimana seharusnya aku membaca ayat ini wahai Abu Abdurrahmaan?" Beliau menjawab; "Rasulullah membacakannya seperti ini  إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ dengan memanjangkan bacaannya (pada huruf yang seharusnya dibaca panjang/mad).

Riwayat ini menjelaskan kepada kita bahwa wajib bagi kita untuk menghindari kesalahan walaupun khafi ketika membaca Al-Qur'an Al-Karim. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa  haram membaca Al-Qur'an dengan kesalahan khafi (ringan, kesalahan yang tidak merubah makna) jika ia sengaja melakukannya sedangkan ia mengetahui bacaan yang benar dan tepat.

Dalam Syarh Addurril yatiim Al-Barkawiy berkata "segala jenis kesalahan (khafi) ini haram, karena walaupun tidak mengubah makna kata pada suatu ayat tetapi ia telah mengurangi hak-hak huruf  dan kesempurnaan bacaan tersebut.

Wallaahu a'laa wa a'lam bisshawwab

Apakah seseorang yang bacaan Al-Qur'annya sering salah jaliy boleh mengimami sholat? Nantikan tulisan berikutnya ya, teman-teman...

____________________

* Oleh: Dini Mukhlishati, Lc.


Apa Itu Tajwid?

Tajwid secara bahasa berarti tahsin artinya memperindah (bacaan menjadi lebih baik) dan itqan artinya menyempurnakan.

Ilmu Tajwid adalah sebuah disiplin ilmu yang menjelaskan tatacara pelafalan huruf Al-Qur'an dari makhrajnya (tempat keluar huruf) dengan memberikan hak (sifat yang selalu ada pada huruf) dan mustahaq (sifat yang kadang mengikuti huruf, kadang tidak mengikuti huruf tersebut) secara tepat dan benar.

Ilmu Tajwid dipakai ketika membaca Ayat-ayat Al-Qur'an.


Apa Tujuan mempelajari Ilmu Tajwid?

1. Menjaga lidah dari kesalahan dalam membaca Al-Qur'an.
2. Menjaga keaslian Al-Qur'an.
3. Mengharap balasan (kebaikan) dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
4. Supaya huruf keluar dari makhraj yang tepat disertai sifat yang benar hingga kita membaca Al-Qur'an dengan mutqin, ringan, mudah & tidak berlebihan.

Apa Keutamaan mempelajari Ilmu Tajwid?

Ilmu tajwid merupakan salah satu ilmu yang mulia karena berhubungan dengan Kalam Allah Subhaanahu wa ta'aala.

Siapa Penggagas Ilmu Tajwid?

Secara praktek ilmu tajwid sudah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yg beliau dengar & terima dari malaikat Jibril 'alaihi salam yang bersumber dari Allah SWT. Sedangkan secara teori ada yang mengatakan:

1. Abu Aswad Ad-Duali
2. Abu Qasim Ubaid bin Salam
3. Alkhalil bin Ahmad Al-Farahidi
4. Dll

Apa Hukum mempelajari Ilmu Tajwid?

Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardhu Kifayah

Apa Hukum mempraktekkan Ilmu Tajwid?

Fardhu 'Ain, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Artinya: "Bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (Al-Muzzammil :4)

Sayyidina 'Ali radhiyallaahu 'anhu ketika ditanya tentang pengertian tartil beliau menjawab: Tartil adalah membaca sesuai tajwid dan mengetahui tempat-tempat waqaf.

Apa saja langkah yang perlu kita ambil agar menguasai Ilmu Tajwid?

1. Mengetahui Makharijul Huruf
2. Mengetahui Sifat-sifat Huruf
3. Melatih lidah dengan sering mengulang membaca Al-Qur'an
4. Belajar dengan guru.

Apa saja rukun bacaan Al-Qur'an yang benar?

1. Sesuai dengan kaedah Bahasa Arab
2. Sesuai dengan Rasm 'Usmani
3. Bersambung kepada Rasulullah SAW

Apa saja tingkatan bacaan Al-Qur'an?

1. Tahqiq : membaca Al-Qur'an dengan pelan dan tenang.
2. Tadwir : membaca Al-Qur'an dengan tidak terlalu pelan dan tidak terlalu cepat, atau kecepatan sedang.
3. Hadr : membaca Al-Qur'an dengan cepat.

Ketiga tingkatan ini mesti tetap menjaga hukum tajwid sesuai hak dan mustahaq huruf Al-Qur'an.


Semoga bermanfaat...

___________________

* Oleh: Dini Mukhlishati, Lc.